Menata Hati, Perbaiki Diri


“Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati, cahaya ilahi…”

Manusia pada hakikatnya tak pernah luput dari kesalahan dan dosa, entah itu dosa yang ringan ataupun berat. besar kecilnya dosa atau kesalahan seseorang tak lepas dari kondisi hatinya karena hati manusia merupakan sumber segala pemikiran dan perasaan yang menentukan setiap tindakan seseorang.

Secara garis besar hati manusia diklasifikasikan menjadi empat bagian, antara lain : sudur (seperti dalam surat An Nas : “Fii Suduurinnaas”), Qolb (yang sering disebut hati itu sendiri), Fu’ad, dan Lub. Sudur merupakan bagian terluar dari hati, jika diibaratkan seperti bagian teras atau halaman dari hati. Qolb merupakan bagian lebih dalam dari hati, yaitu berada pada lapisan kedua dari luar. Qolb atau lebih sering disebut Qolbu inilah yang menjadi pintu masuk ke dalam ruangan-ruangan hati. Bagian yang lebih dalam yaitu Fu’ad. Bagian ini jika diibaratkan seperti kamar-kamar yang ada di dalam rumah hati. Sementara itu bagian inti yang merupakan pusat segala pemikiran jernih disebut Lub. Kata Lub sering disebutkan dalam Al qur’an pada kata Ulul Albab. Lub dimisalkan sebagai brankas dari hati, sehingga bagian ini sangat rawan dan harus benar-benar dijaga.
Ibarat sebuah rumah, jika tidak dijaga maka aka nada kemungkinan dimasuki oleh benda-benda asing yang tidak diinginkan, entah itu orang asing, binatang berbisa, debu, atau hal-hal lain yang berbahaya serta mengotori rumah kita. Begitupula dengan hati. Jika tidak dijaga maka kati yang semula jernih bisa menjadi kotor. “kotoran” atau hal-hal buruk masuk dalam diri manusia dan berada di bagian sudur yang merupakan bagian terluar dari hati. Hal-hal buruk ini bisa masuk kapan saja jika Qolb dan bagian-bagian di dalamnya tidak kita bentengi dengan hal-hal baik yang dapat melindungi rumah hati kita. Secara garis besar ada 3 “tanaman” yang dapat mengamankan dan melindungi hati kita dari hal-hal buruk yang ada di halaman hati kita, antara lain : tanaman kasih sayang, tanaman sabar, dan tanaman syukur.
1.    kasih sayang
Islam sangat menganjurkan dan menjunjung tinggi kasih sayang. Salah satu bukti yang paling sederhana adalah ucapan basmalah. Sebelum melakukan segala hal, umat muslim dianjurkan untuk membaca “bismillahirrahmanirrahiim”. Pada kalimat basmalah tersebut terdapat dua sifat Allah, yaitu Rahman dan Rahiim yang secara berturut-turut berarti pengasih dan penyayang. Pertanyaannya, kenapa sifat tersebut yang digunakan? Kenapa bukan sifat lain, seperti Al Malik atau Al quddus?. Tentu saja karena Islam sangat menganjurkan sifat kasih saying kepada sesame makhluk. Pernah juga diceritakan sebuah kisah sahabat Ali Bin Abi Thalib bahwa pada saat berangkat Shalat Shubuh menuju masjid, Beliau (Ali Bin Abi Thalib) bertemu dengan seorang tua yang juga sedang berjalan menuju arah masjid. Karena usia yang sudah sangat tua, orang tersebut berjalan sangat lambat. Sebagai seorang sahabat yang sangat menghormati orang lain, Ali Bin Abi Thalib tidak berani menyalip orang tua tersebut, melainkan berjalan di belakang orang tua tersebut. Sesampainya di dekat masjid, ternyata orang tua tersebut tidak pergi ke masjid karena ternyata orang tua tersebut adalah seorang nasrani. Ali Bin Abi Thalib pun bergegas menuju masjid untuk mengikuti shalat shubuh berjamaah bersama Rasulullah. Ternyata para jamaah sudah Ruku’ di rakaat yang terakhir, akhirnya Ali pun tidak ketinggalan jamaah dan mengikuti hingga akhir. Setelah Shalat berjamaah, yang kebetulan saat itu diimami langsung oleh Rasulullah, salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasul, kenapa tadi Ruku’ di rakaat terakhir tidak seperti biasanya? Lama sekali?”. Kemudian Rasul pun menjawab, “Saat ruku’ tadi aku menerima wahyu bahwa aku harus menahan ruku’ karena menunggu Ali Bin Abi Thalib yang terlambat ikut shalat berjamaah karena menghormati seorang tua, akhirnya aku pun menahan ruku’ hingga Ali tiba”. Dari cerita tersebut, jelas bahwa Islam juga sangat menjunjung tinggi kasih sayang. Itulah yang juga menjadi dasar bahwa Rasulullah dan agama Islam menjadi Rahmatan lil ‘alamin, Rahmat bagi sekalian alam.
2.       Sabar dan syukur
Hal yang kedua yang dapat melindungi hati manusia dari sesuatu yang tidak baik adalah Sabar dan syukur. Diriwayatkan dalam sebuah cerita bahwa Al kisah terdapat seorang pasangan suami istri. Dimana kondisinya sangat kontras. Sang istri merupakan seorang wanita yang sangat cantik, sementara sang suami memiliki paras yang kurang tampan, yang pasti kondisi keduanya sangatlah berbeda hingga ibarat bumi dan langit. Bahkan karena merasa memiliki gap yang terlalu tinggi dengan istrinya, sang suami pun memanggil istrinya dengan panggilan yang sangat baik dan tidak pernah berlaku kasar terhadap sang istri. Suatu hari suami istri tersebut duduk bersama dan merenung. Sang suami berkata, “istriku, sepertinya kita berdua kelak akan masuk surga”. Sang istri pun kaget dan menanyakan alas an kepada suaminya. Maka sang suami pun menjawab, “Aku akan masuk surga karena sangat bersyukur memiliki istri secantik dan sebaik engkau, sementara engkau akan masuk surga karena sangat sabar memiliki dan merawat aku sebagai suamimu”. Dari sini dapat dilihat bahwa dengan syukur dan senantiasa bersabar, hati kita pun akan terjaga dari hal-hal buruk yang dapat menggerogoti isi brankas hati kita.
Seseorang yang hanya mampu menjaga bagian sudur, maka ia berada pada tingkatan islam. Seseorang yang mampu menjaga hingga bagian Qolb, maka dia ada pada tingkatan Iman. Sementara seseorang yang mampu menjaga hingga Fu’ad, maka tingkatannya adalah Ihsan. Sedangkan orang yang mampu menjaga hati hingga bagian terdalam atau Lub, maka orang itulah yang ketauhidannya telah menyatu dengan dirinya. Oleh karena itu, untuk mencapai itu semua, mari kita berlomba-lomba untuk beribadah berbuat kebaikan untuk menggapai Ridha-Nya.
Ada sebuah kisah tentang seorang Raja yang memiliki tiga orang prajurit. Ketiga orang prajurit tersebut diberi tugas untuk mencari dan mengumpulkan buah-buahan yang paling baik yang ada di seluruh penjuru negeri. Akhirnya ketiga prajurit tersebut pun berangkat dengan membawa masing-masing satu buah karung. Prajurit yang pertama sangat bersungguh-sungguh melaksanakan perintah rajanya. Dia memanjat pepohonan yang tinggi guna mendapatkan buah yang terbaik, meskipun terasa sangat sulit tapi dia tetap gigih menjalankannya. Sementara itu prajurit yang kedua, tidak seperti prajurit yang pertama, dia hanya mencari buah seadanya. Entah baik atau tidak tetap dia masukkan ke dalam karung yang dibawahnya. Sedangkan prajurit yang ketiga sangat pemalas. Dia memilih untuk tidak mencari dengan anggapan bahwa Raja sangat sibuk, sehingga tidak akan memeriksa hasil pencarian mereka. Akhirnya prajurit ketiga mengisi karungnya dengan rerumputan dan batu-batuan agar terlihat penuh dan berat. Akhirnya pada hari H, ketiga prajurit tersebut menghadap Raja. Prajurit yang ketiga dengan percaya dirinya memberikan hasil pencariannya kepada Raja untuk diperiksa, meskipun sebenarnya dia salah dengan tidak melaksanakan perintah dengan benar. Namun apa yang terjadi, Sang Raja berkata, “aku tidak akan memeriksa isi karung kalian, tapi aku akan memenjarakan kalian bertiga. Selama di penjara kalian tidak akan diberi makan, tapi kalian boleh memakan apa yang ada di dalam karung yang kalian bawa.” Akhirnya ketiga prajurit tersebut dipenjarakan di tempat yang berbeda-beda. Prajurit pertama pun masih bisa hidup sejahtera di penjara karena bisa menikmati buah-buahan terbaik yang ada di dalam karungnya. Sementara itu prajurit kedua terpaksa juga harus memakan buah-buahan yang dicarinya dengan seadanya. Di sisi lain prajurit ketiga akhirnya terpaksa harus makan rerumputan dan akhirnya mati kelaparan.
Jika cerita tersebut dianalogikan dengan kehidupan, maka dapat dimisalkan Sang Raja adalah Tuhan pencipta alam, Allah SWT. Ketiga prajurit itu adalah tipe-tipe manusia, dimana kesemuanya diperintah oleh Allah SWT selaku Sang Raja untuk menjalankan perintahnya. Buah-buahan dapat dianalogikan sebagai pahala ibadah yang wajib kita cari, sementara penjara merupakan alam kubur kita. Dengan demikian, sebelum kita masuk alam kubur, marilah kita isi karung-karung kita dengan pahala-pahala terbaik dengan cara mengerjakan amalan-amalan yang terbaik pula. Jangan sampai di alam kubur nanti kita menyesal, namun harusnya kita menjadi insan yang mendapatkan nikmat di alam kubur atau akhirat kelak berupa surga-Nya. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s